Senin, 25 Maret 2013

KEBUDAYAAN ISLAM PADA MASA RASULULLAH SAW



Assalamu'alaikum wr wb.. 
Selamat datang  teman2 di blog sederhana ini,  pada kali ini saya tampilkan makalah SKI yang kami Presentasikan pada minggu2 kemaren , yang berjudul kebudayaan Islam pada masa Rasulullah SAW, cukup ringkas n sederhana , tapi kami kutip dari berbagai macam sumber,, :) ,makalah ini bisa dijadikan referensi bagi temen2 yang mebutuhkan , tapi yaitu ,, jangan hanya COPAS (Copy Paste) saja , ndak boleh to... hehe ya sambil cari sumber lain juga dah,,, ^_^, 
yow monggo umpami badhe dipun wahos... :)






KEBUDAYAAN ISLAM PADA MASA RASULULLAH SAW

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas matakuliah
Sejarah Kebudayaan Islam
Dosen Pengampu : Nurhadi, S.Ag, MA












Disusun Oleh :

Yudha Adi Pradana                11420034
Muhammad Fathunnajah        11420055
Soni Agus Setiawan                11420098
Ika Ilyana Ulya                       11420101



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN KALIJAGA
2012

KATA PENGANTAR

Bismilahirrahmanirrahim
Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah serta inayah-Nya kepada kami sehingga penulisan makalah yang berudul “Kebudayaan Islam Pada Masa Rasulullah SAW” ini dapat diselesaikan dengan baik.
Tentunya selesainya penulisan makalah ini bukan semata-mata dari kinerja penulis, melainkan membutuhkan banyak bantuan dari pihak lain, baik berupa bantuan materiil, maupun non materiil, juga termasuk pihak-pihak yang menjadi inspirator dari penulisan makalah ini.
Makalah ini kami susun untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Kebudayaan Islam, juga untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa dalam memahami sejarah dan kebudayaan Islam pada masa Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Nurhadi,S.Ag,MA selaku dosen pengampu matakuliah Sejarah dan Kebudayaan Islam, yang telah memberikan dukungan penuh sekaligus bimbingan kepada kami untuk menyusun makalah ini.
Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan. Oleh karena itu, dengan kelapangan hati dan tangan terbuka, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat konstruktif demi kesempurnaan penyusunan makalah ini.



Yogyakarta, 7 Maret 2013


Penyusun

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Sejarah merupakan suatu rujukan yang sangat penting untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik. Berkaitan dengan itu kita bisa mengetahui kejadian-kejadian yang terjadi pada masa lalu, terutama bagi umat Islam. Perkembangan Islam pada masa Nabi Muhammad SAW melalui berbagai macam cobaan dan tantangan yang dihadap untuk menyebarkannya. Islam berkembang dengan pesat hampir semua lapisan masyarakat dipegang dan dikendalikan oleh Islam. Hal itu tentunya tidak terlepas dari para pejuang yang sangat gigih dalam mempertahankan dan juga dalam menyebarkan Islam sebagai agama Tauhid yang diridhoi. Perkembangan Islam pada zaman inilah merupakan titik tolak perubahan peradaban ke arah yang lebih maju. Maka tidak heran para sejarawan mencatat bahwa Islam pada zaman Nabi Muhammad SAW merupakan Islam yang luar biasa pengaruhnya.
Hadirnya Nabi Muhammad pada masyarakat Arab membuat terjadinya kristalisasi pengalaman baru dalam dimensi ketuhanan yang mempengaruhi segala aspek kehidupan masyarakat, termasuk hukum-hukum yang digunakan pada masa itu. Berhasilnya Nabi Muhammad SAW dalam memenangkan kepercayaan yang dianut bangsa Arab. Dalam waktu yang relatif singkat beliau mampu memodifikasi jalan hidup orang-orang Arab. Sebagaian dari nilai dan budaya Arab pra-islam, dalam beberapa hal diubahnya dan ada pula yang diteruskan oleh masyarakat Nabi Muhammad ke dalam tatanan moral Islam.
Islam sangat berperan penting dalam menciptakan peradaban yang luar biasa yang tercipta pada masa zaman Nabi Muhammad. Dan aktor penting di balik itu semua tidak lain ialah Nabi Muhammad sendiri. Nabi Muhammad tidak hanya sebagai Nabi melainkan ia juga memerankan sebagai pengajar, pendidik, pemimpin, pemimpin militer, politikus, reformis, dan lain-lain.
Sebagai seorang muslim hendaknya kita mesti sejarah Nabi Muhammad SAW. baik ketika beliau dalam berdakwah sampai hijrah ke madinah dan diangkat sebagai Rasul
Oleh karena itu kami mencoba untuk mengingatkan kembali akan sejarah dan perjalanan nabi untuk selalu kita contoh dan kita teladani dalam kehidupan sehari-hari. Telah kita ketahui bersama bahwa umat islam pada saat sekarang ini lebih banyak mengenal figur-figur yang sebenarnya tidak pantas untuk di contoh dan ironisnya mereka sama sekali buta akan sejarah dan pri kehidupan Rosulullah SAW. dan sebab itu juga kami mencoba untuk membuka, memaparkan tentang kehidupan nabi Muhammad SAW, dan mudah-mudahan dengan adanya makalah ini menambah rasa kecintaan kita pada nabi Muhammad SAW.

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, penulis dapat merumuskan masalah-masalah yang akan diangkat, yaitu:
  1. Bagaimana proses pengangkatan Muhammad SAW sebagai Rasul?
  2. Bagaimana strategi dakwah yang dilakukan Rasulullah SAW?
  3. Bagaimana peletakan dasar-dasar kebudayaan Islam pada masa Rasulullah SAW?

C.    Tujuan Pembahasan

Tujuan dari penulisan makalah ini, diantaranya:
  1. Mengetahui proses pengangkatan Muhammad SAW sebagai Rasul
  2. Mengetahui strategi dakwah yang dilakukan Rasulullah SAW
  3. Mengetahui dasar-dasar kebudayaan Islam pada masa Rasulullah SAW


DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR.. 2
PENDAHULUAN.. 3
A.         Latar Belakang. 3
B.         Rumusan Masalah. 4
C.         Tujuan Pembahasan. 4
DAFTAR ISI. 5
PEMBAHASAN.. 6
A.         Pengangkatan Muhammad SAW Sebagai Rasul 6
B.         Strategi Dakwah Nabi Muhammad SAW... 7
C.         Peletakan Dasar-Dasar Kebudayaan dan Peradaban Islam.. 14
KESIMPULAN.. 17
DAFTAR PUSTAKA.. 18


BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengangkatan Muhammad SAW Sebagai Rasul

Ketika Muhamad SAW hampir mencapai 40 tahun, beliau melakukan khala’(menyendiri) di Gua Hira’; di gunung an-Nur yang terletak sekitar dua mil dari kota Makkah. Goa Hira’ memiliki panjang empat hasta dengan lebar hanya tiga perempat hasta. Beliau menyendiri pada bulan Ramadan dengan berbekal makanan tepung dan air. Yang dilakukan Rasulullah selama berkhala’ diantaranya memberi makan orang miskin yang datang padanya, beribadah, dan memikirkan perbuatan-perbuatan syirik yang selama ini dilakukan oleh kaumnya yang membuat beliau tidak tenang menyaksikannya. Allah telah melakukan berbagai rekayasa terhadap Muhammad SAW dengan dilakukannya ‘uzlah oleh beliau. ‘Uzlahmerupakan suatu keharusan bagi jiwa yang diinginkan dapat memberikan pengaruh dalam realitas kehidupan manusia dan mengubahnya menjadi bentuk yang lain, yakni memutuskan dari kehidupan dunia dan keinginan-keinginan kecil manusia untuk menyibukkan kehidupan.
Setelah genap berusia 40 tahun, mulai muncul tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad SAW, yaitu berupa mimpi di pagi hari selama enam bulan, sedangkan masa kenabiannya selama dua puluh tiga tahun. Di tahun kedua Muhammad SAW ber-‘uzlah, Allah SWT hendak melimpahkan rahmat-Nya kepada penduduk bumi, dan Allah memuliakan beliau dengan nubuwah (kenabian), lalu Jibril datang kapada beliau membawa ayat-ayat al-Qur’an. Peristiwa tersebut terjadi pada hari Senin Malam tanggal 21 Ramadan, bertepatan dengan tanggal 10 Agustus 610 M. Tepatnya usia Rasulullah saat itu adalah empat puluh sembilan tahun Syamsiyah, tiga bulan, dua puluh hari.[1] Wahyu yang diterima oleh Rasulullah SAW , berdasarkan yang dikatakan oleh ‘Aisyah radliyallahu ‘anha, dimulai dengan suatu mimpi yang benar. Dalam mimpi itu beliau melihat cahaya terang laksana fajar menyingsing di pagi hari. Kemudian beliau melaksanakan khalwat di gua Hira’ melakukan ibadah selama beberapa malam, kemudian pulang untuk mengambil bekal. Begitulah yang dilakukan Rasulullah SAW berulang kali. Hingga suatu saat beliau dikejutkan dengan kedatangan seorang malaikat, dia berkata, “Bacalah” lalu Rasulullah menjawab, “Aku tidak bisa membaca” lalu malaikat itu mendekat dan memeluk beliau sehingga terasa lemas sekali. Malaikat itu mengulang perkataannya tadi, memeluk Nabi dan melepaskannya lagi. Lalu ia berkata lagi, “Bacalah dengan nama Rabbmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah yang maha Pemurah.”
Rasulullah SAW pulang dalam keadaan gemetar dan menemui Khadijah dan memintanya untuk menyelimuti beliau. Rasulullah SAW menceritakan apa yang terjadi kepada Khadijah. Beberapa saat kemudian Khadijah mengajak Rasulullah SAW menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, salah seorang anak paman Khadijah. Ia seorang lanjut usia dan tidak bisa melihat (tunanetra). Lalu Rasulullah menceritakan peristiwa yang dialaminya pada Waraqah, dan ia menjelaskan bahwa yang mendatanginya adalah seorang malaikat. Tidak lama kemudian Waraqah meninggal dunia, dan untuk beberapa waktu lamanya Rasulullah SAW tidak menerima wahyu. Terputusnya wahyu pada Rasulullah SAW, menurut Inbu Hajar, bermaksud agar Rasulullah SAW tidak lagi merasa takut dan mengharapkan kedatangan malaikat Jibril kembali. Setelah Rasulullah SAW mengetahui dengan penuh keyakinan bahwa dirinya adalah utusan Allah SWT, ia merasa tegar hingga malaikat Jibril datang lagi kepada beliau.

B.     Strategi Dakwah Nabi Muhammad SAW

  1. Masyarakat islam masa nabi Muhammad
Dakwah nabi Muhammad berada dalam dua tempat strategis, Makkah dan Madinah. Awal dakwah nabi Muhammad bisa dikatakan penuh tantangan dan duri, namun keteguhannya menyingkirkan itu semua. Hal ini terbukti dengan banyaknya cara yang digunakan nabi untuk meyakinkan para penduduk mekkah terhadap ajaran yang dibawanya- islam. Mulai dari cara person to person yang menghasilkan kader- kader professional di masa mendatang- identik dengan dakwah bil sirri- sampai memberikan dakwah bil jahri yang berdampak pada perjanjian atau baiat – baik  Aqabah I dan II- yang merupakan alas an mendasar terjadinya hijrah nabi ke Madinah. Dalam pembahasan ini akan diketahui pola atau strategi dakwa nabi hingga brhasil menciptakan Negara islam yang baldatun thoyyibah di Madinah.

  1. Masyarakat Islam Makkah
Makkah merupakan kota penting pada waktu baik dikarenakan tradisi maupun kedudukannya. Ajaran nabi- isla- di samping berhadapan dengan agama politeisme yang telah mengakar kuat juga harus melawan oposisi dari pemerintahan oligarki bukanlah ajaran baru bagi masyarakat pada waktu itu. Hal ini terbukti dengan banyaknya kesamaan esensi dalam hal ibadah, misalnya dalam hal puasa, sholat. Kesamaan ritual inilah yang menjadi salah satu penyembah ketertarikan masyarakat makkah terhadap ajaran nabi, meskipun oleh sebagian kelompok, masyarakat ajaran nabi Muhammad dianggap merusak tatanan masyarakat. Kesamaan ritual yang di maksud dapatlah kiranya dipahami secara jelas di bawah ini:
No
Ritual sebelum islam
Masa islam
Keterangan
1.
Persaudaraan klan
Pemberian zakat
Ritual pemberian zakat identik untuk menguatkan persaudaraan klan di antara mereka
2.
Haji
Haji
Hanya berbeda pada tataran niat dan tujuan
3.
Menyembah berhala
shalat
Terdapat kesamaan pada tujuan penyembahan

Selain kesamaan ritual di atas, ketertarikan masyarakat terhadap islam juga disebabkan inti ajaran islam itu sendiri, yaitu masalah keesaan tuhan, penghapusan patung- patung berhala, kewajiban manusia beribadah kepada tuhan maha pencipta. Dengan kata lain, islam merupakan agama yang mengingatkan pada hal yang alami, kebutuhan asli manusia. Adapun anggapan pengrusakan tanaman masyarakat yang dianut oleh kalangan the have (bangsawan) inilah yang menyebabkan terjadinya banyak konflik baik terhadap pribadi nabi maupun pengikutnya yang mengharuskan nabi mengambil tindakan guna kebaikan bersama. Rincian konflik dan tindakan terhadap nabi dapat dilihat di bawah ini:
No
Konflik atau tekanan yang dihadapi
Tindakan nabi
1.
Cara halus yang berbentuk bujukan diplomatic melalui pamannya
Ditolak dengan penuh keyakinan dengan mengatakan “meskipun matahari diletakkan di tangan kanan saya  dan bulan di tangan kiri saya dan saya disuruh memilih untuk meninggalkan tugas dakwah ini biar Allah sendiri yang memenangkannya nanti atau saya mati dalam tugas ini niscaya saya tidak akan surut
2.
Cara kasar salah satu contohnya dengan meletakkan kotoran manusia di depan umat nabi atau ketika beliau shalat seperti yang dilakukan Uqbah dari Bani Syams
Selalu tersenyum dan langsung membersihkan tanpa sakit hati
3.
Pemboikotan terhadap Bani Hasyim selama tiga tahun
Menghadapi dengan sabar
4.
Penyiksaan terhadap pengikut dari kaum lemah seperti Bilal
Memerintahkan para sahabat untuk hijrah salah satunya raja Najasyi

Fenomena pro kontra tersebut setidaknya dilatarbelakangi adanya factor social dan ekonomi an sich. Para bangsawan belum siap untuk mensejajarkan kedudukannya dengan sekelompok masyarakat yang selama ini dianggap budak selain adanya “larangan menyembah berhala” yang notabene itu adalah salah satu sumber penghidupan mereka.
Khadijah bisa dikatakan sebagai orang Makkah pertama yang masuk islam bukan karena beliau istri nabi namun lebih dikarenakan kebenaran ajaran yang dibawa sang suami yang telah di ta’kid pamannya waraqah. adapun keluarga nabi yang lain adalah Ali, Zaid, dan empat anak prempuan nabi. Adapun dari luar keluarga nabi adalah Atiq bin Usman yang dikenal dengan Abu Bakar. Masuknya Abu Bakar ini membawa kesan dalam diri nabi seperti yang dikatakannya “aku tidak pernah mengajak orang agar menerima islam tapi dia menunjukkan tanda- tanda penolakan, kecurigaan, dan keraguan kecuali Abu Bakar ketika kukatakan padanya tentang islam dia sama sekali tidak ragu. Masuknya abu bakar setidaknya setiaknya juga berperan dalam dakwah islam dengan masuknya beberapa orang atas ajakannya seperti Abu Ubaidah bin al- Haris, Abu Salamah bin Abdul Asad, al- Arqam bin al- Arqam, Usman bin Ma’zum, Qudamah bin Maz’un, Sa’id bin Yazid dan istrinya (saudara Umar bin Khattab), Asma dan Asiyah.[2]

  1. Masyarakat Islam Madinah
Dakwah Nabi kepada penduduk Madinah lebih singkat daripada dakwah di Makkah yang memakan waktu 10 tahun. Namun demikian, Nabi berhasil memperoleh pengikut yang lumayan banyak.
Keputusan hijrah nabi bisa bisa jadi bukan hanya untuk menghindarkan diri dari banyaknya tekanan yang diperoleh namun juga untuk mencari massa sehingga dapat digunakan untuk mendirikan suatu Negara yang selanjutnya dapat dijadikan sebagai tameng atau sebuah benteng pertahanan. Hijrah nabi ke Madinah setidaknya membentuk 3 kelompok masyarakat yaitu, (1) Muhajirin, (2) kaum Anshar penduduk Madinah asli yang telah memeluk agama Islam, (3) Yahudi, sisa-sisa Bani Israel dan orang- orang Arab yang memeluk agama Yahudi. Dalam perjalanan selanjutnya, Nabi membentuk suatu ikatan keluarga baru yang didasari oleh agama bukan kesukuan. Untuk merealisasikannya maka Nabi melakukan:
No.
Tindakan/ strategi
Maksud
Contoh
1.
Membangun masjid
Mendirikan suatu tempat yang yang tidak dipunyai oleh kabilah ini atau kabilah lain, yidak hanya tempat untuk bertemunya suatu keluarga tertentu tapi beliau bermaksud membina suatu tempat yang akan dikunjungi oleh seluruh kaum muslimin ketika itu.
Kala itu masjid digunakan sebagai bali pertemuan, baik untuk bercakap- cakap, mendengarkan syair atau membicarakan urusan perekonomian
2.
Mempersaudarakan di antara kaum muslimin
Untuk mengeratkan hubungan antara suku Aus dan Khazraj.
Mendekatkan hubungan antara kabilah- kabilah kaum muhajirin.
Menghilangkan kesepian lantaran meninggalkan kampung halaman dan menghibur karena berpisah dengan keluarga .
Persaudaraan ini menghasilkan keluarga islam yang terdiri dari bermacam- macam kabilah dan unsure.
Nabi Muhammad mengambil Ali bin Abi Thalib sebagai saudaranya, Hamzah (paman nabi) bersaudara dengan Zaid (anak angkat nabi), Abu Bakar bersaudara dengan Charidzah ibnu Zuhair, Umar bin Khattab bersaudara dengan Itban Ibnu Malik al-Zhazdraj dan lainnya.
3.
Perjanjian antara kaum muslimin dan bukan muslimin
Memberikan wawasan pada kaum muslimin waktu itu tentang bagaimana cara bekerjasama dengan penganut bermacam- macam agama ketuhanan yang lain yang pada akhirnya menghasilkan kemauan untuk bekerja bersama- sama dalam upaya mempertahankan agama.
Adapun isi perjanjian adalah sebagai berikut:
Atas nama Allah yang maha Pemurah lagi maha Penyayang, bahwa inilah surat dari nabi tentang perjanjia anatara Mukminin dan Muslimin dari suku Quraisy dan antara penduduk Yatsrib beserta pengikut- pengikut yang menggabungkan diri kepada mereka dan berjihad bersama- sama.
4.
Suri tauladan yang baik
Untuk mensukseskan ke-3 strategi di atas maka dibutuhkan suatu panutan yang harusnya dikuti sehingga tidak salah jalan dan sumber itu adalah Rasulullah sendiri
Nabi juga bercanda, pergi ke pasar
5.
Keadilan sosial
Merupakan pondasi dalam melaksanakan kehidupan bermasyarakat. Utuk membentuk masyarakat sehat harus berpondasikan keadilan social yang merata
Hal ini telah tercermin dalam pengaturan harta benda
6.
Sistem pemerintahan dalam masyarakat
Untuk memantapkan strategi sebelumnya sehingga kehidupan dalam bermasyarakat semakin baik
Berkaitan dengan persoalan rumah tangga, persoalan kemasyarakatan sperti gotong royong, keadaan islam seperti mengucap salam dan peraturan tentang pergaulan sejagad seperti peperangan dan lainnya
7.
Meresapnya jiwa islam dalam masyarakat baru
Bukti kecintaan terhadap agama
Umar bin khattab dari pemarah menjadi seorang yang berbelas kasih[3]

Adapun bukti keberhasilan beliau setidaknya terlihat dari perubahan yang terjadi sebelum dan sesudah islam datang seperti di bawah ini:

No
Sebelum Islam
Sesudah Islam
1.
Dari mata pedang
Ke jalan damai
2.
Dari kekuatan
Ke undang- undang
3.
Dari serba halal
Mengedepankan kesucian
4.
Dari sifat suka merampas
Dipenuhi dengan rasa kepercayaan
5.
Dari balas dendam
Memnggunakan hokum qishahs
6.
Dari sifat suka mengasingkan diri
Menjadi suatu keluarga islam dan mampu mengalahkan Romawi dan Persia
7.
Kehidupan kesukuan
Adanya tanggung jawab pribadi
8.
Dari penyembah berhala
Berpegang pada aqidah tauhid
9.
Memandang rendah wanita
Memuliakan wanita
10.
Tatanan sosial dipengaruhi system kasta
Mengedepankan persamaan

C.    Peletakan Dasar-Dasar Kebudayaan dan Peradaban Islam

Islam lahir di Makkah, karena di Makkah itulah Nabi diutus. Akan tetapi, agama islam tersiar di Madinah. Masa Makkah adalah masa menyeru kepada Allah yang dapat tantangan dan tindasan dari kaum Quraisy. Kaum muslimin di Makkah adalah oknum-oknum yang memiliki akhlak islam, dan telah menjadi darah daging bagi mereka akhlak islam itu, tetapi mereka belum lagi dapat mewujudkan suatu masyarakat islam. Hal ini disebabkan karena mereka masih sedikit dan tiada berdaya. Setelah Nabi hijrah ke Madinah, dan manusia telah berbondong-bondong masuk agama islam, mulailah Nabi membentuk suatu masyarakat baru. Karena masyarakat merupakan wadah dari pengembangan kebudayaan, maka berbarengan dengan pembinaan masyarakat itu diletakkan pula dasar-dasar kebudayaan islam. Dasar-dasar yang merupakan sejumlah nilai dan norma yang mengatur manusia dan masyarakat dalam hal yang berkaitan dengan peribadatan, sosial, ekonomi dan politik. Beberapa asas masyarakat islam yang telah diletakkan oleh Rasulullah antara lain :

  1. Mendirikan Masjid
Sejak kedatangan Rasulullah Yatsrib berubah namanya menjadi Madinah al-Rasul atau al-Madinah al-Munawwarah. Masjid yang dibangun rasulullah, selain disediakan untuk tempat beribadah, juga digunakan sebagai tempat pertemuan Rasulullah dengan para sahabatnya. Di tempat ini pula kaum muslimin melakukan belajar, mengadili suatu perkara, jual beli, bermusyawarah untuk menyelesaikan persoalan-persoalan umat dan berbagai kegiatan lainnya.
  1. Al-Ikha (persaudaraan)
Banyak kaum muhajirin datang ke Madinah dalam keadaan miskin, karena harta benda dan kekayaan mereka ditinggal di  Makkah. Yang mereka bawa adalah harapan dan keyakinan. Oleh karena itu, Rasulullah mempersaudarakan kaum muhajirin dan kaum anshar yang dengan ikhlas bersedia menolong mereka. Abu bakar dipersaudarakan dengan Haritsah ibn Zaid, Ja’far ibn Abi Thalib dengan Muadz ibn Jabal, Umar ibn Khattab dengan Itbah ibn Malik dan lain-lain. Demikianlah keluarga Muhajirin dan anshar dipertalikan dengan ikatan persaudaraan berdasarkan agama, menggantikan persaudaraan yang berdasarkan kesukuan.
  1. Al-Musawah ( Persamaan rasial manusia)
Rasulullah dengan tegas mengajarkan bahwa seluruh manusia adalah keturunan Adam yang diciptakan Tuhan dari tanah, Tidak ada yang membedakan kecuali karena ketakwaannya. Ajaran ini memperjelas surat Al- Hujurat ayat 13. Berdasarkan asas ini setiap warga masyarakat memiliki hak kemerdekaan dan kebebasan. Oleh karena itu, Rasulullah sangat memuji dan menganjurkan para sahabatnya untuk memerdekakan hamba-hamba sahaya yang dimiliki oleh bangsawan-bangsawan Quraisy.
  1. Al-Tasamuh (Toleransi beragama)
Al-tasamuh sebagai asas masyarakat islam dibuktikan dengan peristiwa piagam Madinah. Umat islam siap berdampingan secara baik dengan umat Yahudi. Mereka mendapat perlindungan dari Negara dan bebas melaksanakan ajaran agamanya. Asas ini senafas dengan surat Al-kafirun ayat 6. Akan tetapi toleransi umat islam itu direspon oleh mereka dengan sikap penghianatan terhadap piagam yang telah disepakati bersama. Setelah terbukti mereka mengusik keimanan orang-orang islam, berusaha mencelakai Rasulullah dan bersekongkol dengan kafir Quraisy, satu persatu kabilah Yahudi itu diusir dari Madinah.
  1. Al-Tasyawur (Musyawarah)
Kendatipun Rasulullah mempunyai status yang tinggi dan terhormat dalam masyarakat, acapkali beliau meminta pendapat para sahabat dalam menghadapi dan menyelesaikan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan urusan dunia dan sosial budaya. Dan tidak jarang beliau mengikuti pendapat mereka. Sebagaimana diisyaratkan dalam surat Ali imran ayat 159, telah dilaksanakan oleh Rasulullah dengan para sahabatnya sebagaimana firman Allah dalam surat al-Syura ayat 38.
  1. Al-Ta’awun (Tolong-menolong)
Tolong-menolong dalam berbuat kebajikan merupakan kewajiban setiap muslim. Sebagaimana telah diisyaratkan dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 2. Hal ini telah ditunjukkan dalam bentuk persaudaraan antara Muhajirin dengan Anshar, sedangkan pihak lain adalah sesama penduduk madinah.
  1. Al-‘Adalah (Keadilan untuk semua)
Al-‘Adalah berkaitan erat dengan hak dan kewajiban setiap individu dalam kehidupan bermasyarakat sesuai dengan posisi masing-masing. Disatu sisi seseorang hendaknya memperoleh haknya, sementara pada sisi lain ia berkewajiban memberikan hak orang lain kepada yang berhak menerimanya. Prinsip ini berpedoman pada surat Al-Maidah ayat 8 dan An-Nisa ayat 58.[4]


BAB III

KESIMPULAN

Setelah pembahasan mengenai meteri diatas, maka penulis dapat menyimpulkan beberapa poin, diantaranya:
  1. Nabi Muhammad SAW menjadi Rasul pada usia kurang lebih 40 tahun. Beliau menerima wahyu pertama dari Allah SWT di goa Hira’ dengan perantara malaikat Jibril.
  2. Fase dakwah Nabi Muhammad dibagi menjadi dua periode, yaitu peride Mekkah dan periode Madinah. Pada awal masa kenabian, beliau berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Hingga akhirnya, dengan wahyu dari Allah SWT beliau melakukan dakwah secara terang-terangan.
  3. Beberapa kebudayaan dan asas masayarakat pada masa Rasulullah SAW diantaranya: (1) Mendirikan Masjid, (2) Al-Ikha (persaudaraan), (3) Al-Musawah (Persamaan rasial manusia), (4) Al-Tasamuh (Toleransi beragama), (5) Al-Tasyawur (Musyawarah), dan sebagainya.






DAFTAR PUSTAKA

  1. Syaikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury. 2005. Sejarah Hidup Muhammad “Sirah Nabawiyah”. Rabbani Press: Jakarta
  2. Pokja Akademik. 2005. Pengantar Sejarah Kebudayaan Islam. Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga: Yogyakarta
  3. Istianah Abubakar. 2008. Sejarah Peradaban Islam. UIN-Malang Press
  4. Bustama A. Gani. 1997. Bulan Bintang: Jakarta
  5. Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia.Al-Maarif: Bandung





[1] Sejarah Hidup Muhammad, SIRAH NABAWIYAH. Syaikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury. 2005. Hlm 73
[2] Sejarah Peradaban Islam, Istianah Abubakar M.Ag. 2008.
[3] Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, Bandung: Al Maarif
[4] Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga. 2005. Pengantar Sejarah Kebudayaan Islam. Hlm. 57

Tidak ada komentar:

Posting Komentar